(maulana husain rumi)
hai orang yang merdeka
semailah bait-bait racun ini
Aku ingin berkoar
semailah bait-bait racun ini
Aku ingin berkoar
Aku ingin menjerit
Berucap dengan kebebasan lidah
Untuk bangsa kita
Benarkah bangsa kita merdeka?
Kalau ya,
Aku akan mengumpat untuk bangsa
Bangsa yang sedang bermain dagelan
Di pelataran rerimbun penguasa
Mana ijazah sang guru
“hubbul wathon minal iman”
Merdeka hanya untuk mereka
Yang bermandikan rupiah
Yang berkeramas emas
Sementara bocah cilik itu
Bersua dengan air kencing kemarin
Bersulang dengan bangkai hidup
Itu yang namanya merdeka?
Merdeka tertulis diatas lembar bisu
Bersampul hukum
Berselotip konstitusi
Merdeka itu kemarin
Sekarang kita harta jarahan
Yang siap diinjak sepatu si dzalim
Yang siap diperkosa nafsu hitam si bengis
Masihkah kau ingin menyebut merdeka?
Dengan hukum di ranjang bianglala
Perbandingan sendal
Diatas nominal bank ibukota
Bangsa yang bangsat
Orang itu masih tersenyum terkekeh
Dibalik jeruji tak tersorot
Dia mabuk disana
Dia bahagia dengan dunia barunya
Dia sang pengembara
Bertabur recehan pada paruh penjaga
Penjaga yang perlu dijaga
Dia merdeka disana
Kasihan para mahkota bangsa
Mereka terkurung
Binar sajak mereka diludahi
Hingga mereka merdeka
Dengan bangsanya sendiri
Didalam liang kerangkang hutan
Mereka menjauh
Dari gemerlap sorot negara dagelan
Ayo kawan
Dengarkan syair bintang yang berbicara
Rekam tetesan makna yang mengalir
Simpan di waduk jiwa
Tuangkan pada paruh-paruh penguasa
Supaya dahaga mereka suci
Mari jalankan wejangan permata
Yang melayang indah
Menyinari
Kalau kita,
Ingin merdeka
Yang tidak hanya tertulis
Tapi terbaca
Tercatat di awang realita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar