yang mestinya indah berkobar
tak berarti
tak berasa
dalam curah kegundahan
jantungku sakit terhimpit
teramat dalam keagungan rindu
hingga hatiku pun ikut tergores
darah nanah penyesalan
terjangan dahsyat badai gerimis
yang ditambah halilintar angin
yang kurasa,
dapat menafikan kegalauan
ternyata tidak
kala cintaku terhantam
gemuruh riuh coba'an
yang mendera
yang menghujam
menjadikan segerombol indera berkelana
dalam detik penghujung awal tahun
mengawali perjuanganku
dengarkan aku
desir anggun fragmen debu
rasaku mencuat hebat
mengelana ke singgasanamu
janganlah kau acuhkan
bayang-bayang ukiran kata bisumu
masih menggumpal kentara
dalam penjuru titik rasio
membuat malam kelabu ini
terasa panjang
menembus masa
nuraniku menjerit
hingga akhirnya
detik
terus kudzikirkan
menanti hadirnya cahaya
yang masih bersemayam
dalam alam kemusykilan
by : husain el-rumi
nb : setelah kembang api itu berkoar-koar, pikiranku berkecamuk galau, semenjak dhuha tadi perjalanan menuju dhuha esok, mataku, hatiku terus menghitung detik, yang mengalir pelan, menggalaukan berkecamuknya penyesalan...
banner
slide show
menu
Kamis, 19 Januari 2012
cerpen : fitrah
Published :
16.53
Author :
M Husain maulana
Barisan bintang sedang berjajar membentang menghiasi malam Minggu tanpa Rembulan ini, sedari tadi kutunggu temanku Rouf. Tak kunjung juga kelihatan batang hidungnya.
Sudah hampir kutunggu setengah jam, tapi tetap saja masih belum kelihatan si Rouf. Anak sesepuh desa suka tani itu, “Huft” lama-lama aku jadi patung disini nunggu Rouf yang katanya tadi ngajak ke Pasar Malam bareng, kenapa sih ini anak?, batinku di dalam hati. Namun tiba-tiba kegrundelan hatiku itu pecah. Tatkala puluhan Santri Putri beranjak pulang dari pengajian Agama Ustadz Syaifudin di halaman sekolah MI Tanbihul Ghofilin. Disana Nampak sesosok Wanita Suci berkerudung hijau muda dengan wajah yang bersinar cerah dihiasi tatapan mata yang sejuk, lesung pipit yang merona dan senyumnya yang benar-benar mempesona. Dengan pikiran melayang mata ini terus memandangnya, hingga “dor” suara itu mengejutkanku dari belakang, ternyata Rouf yang lama sekali datangnya itu menyebabkanku kesal ditengah kegembiraan, “ayo der, kita berangkat sekarang”, ujar Rouf tanpa perasaan berdosa. Dalam hatiku geram juga, gaya mengajaknya seperti itu. “ pergi kemana, ke London, jam segini kowe baru kesini, darimana saja sih !”, dengan nada emosi aku mengatakannya, tapi kemudian dia menjelaskan alasannya yang bisa diterima oleh akal, bahwasanya keterlambatannya gara-gara mengantarkan Neneknya ke Rumah Sakit kota sejak habis Maghrib tadi.
“Ya sudahlah kalau begitu, ayo berangkat”. Ajakku dengan nada-nada sedikit kesal.
Perjalanan kami, diiringi dengan canda tawa, tak jarang lirik kanan lirik kiri. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sosok Wanita yang beriri menunggu pesanan bakso.
“ Tidak salah lagi, Wanita itu yang tadi memakai Jilbab hijau muda, cantiknya ya Allah…, anggun sekali.”
“ itu Fitrah der, anaknya pak lurah, dia Mondok di Ponpes Az Zahroh, Probolinggo, Tapi sekarang lagi di rumah. hati-hati saingannya banyak lho !”. Ucap Rouf di tengah lamunku.
“Siapa juga yang pengen nembak dia, aku kan Cuma lihat dia saja. Eh. . . kamu malah nyeramahin aku”. Kita terus larut dalam canda tawa, sampai langkah kita akhirnya tepat berada di depan gerbang Pasar Malam.
Rouf, Nampak begitu menikmati suasana Pasar Malam. Tapi aku justru malas untuk menikmati semua permainan, ataupun hanya sekedar lihat-lihat banyak pedagang yang berjualan. Tidak tahu mengapa ?, bayangku melayang-layang kepada Fitrah, senyumannya yang begitu anggun, membuat akalku terus larut dalam lamunan. Apakah aku pantas bersanding dengannya, seorang calon Ustadzah, sedangkan aku hanya orang biasa yang tidak begitu mengenal Agama.
Malam semaki larut, aku dan Rouf kembali ke rumah masing-masing.
Kurasakan jantungku berdebar-debar saat merebah di atas kasur, kuputuskan dengan keberanian diri untuk menulis sepucuk surat untuk Fitrah.
Kubiarkan penaku menari-nari merangkai kata di atas kertas putih yang membisu.
Pukul 02.00 WIB pagi.
Surat telah terangkai, kubiarkan jasad ini beristirahat dari begitu dahsyatnya kehebatan cinta. Pelan tapi pasti, tiba-tiba semua Nampak gelap dan tenang...
Matahari Nampak begitu panas, membakar semangatku untuk mengantarkan sepucuk surat jeritan jiwa untuk sang perumpamaan bidadari surga.
Aku terheran-heran, mengapa banyak orang memakai pakaian hitam-hitam di sepanjang jalan ini.
Aku semakin kaget, ketika pasukan hitam-hitam itu dari rumah Fitrah. dan ku bertanya kepada salah satu pemuda yang lewat.
“ ada apa ini mas, kok rame sekali?”
Pemuda itu menjawab “ oh. . .itu dek anaknya pak lurah yang bernama Fitrah meninggal dunia sehabis Shubuh tadi.”
Seakan-akan jiwaku tersentak petir yang Maha Dahsyat, tubuhku lemas, kepalaku pening mendengar semua itu.
Setiba di depan pintu ada seorang ibu setengah baya menghampiriku, dia menanyakan bahwa apakah aku membawa surat.
“iya bu, surat untuk anak ibu sebenarnya”. Ibu itu menangis. Dia menceritakan kepadaku bahwa tatkala Fitrah bangun tidur sebelum adzan shubuh, Fitrah menemuinya dan bercerita bahwa ia mimpi indah sekali, rumah terlihat ramai, kemudian datang seorang pemuda tampan dan sopan membawakannya surat, dan setelah dibaca, Fitrah mengatakan kalau surat yang dibuat oleh pemuda itu sangat indah, sampai-sampai Fitrah ingin menemui pemuda tersebut di dunia nyata. akan tetapi sang Izrail telah datang dengan keperkasaannya untuk mengambil jiawa-jiwa manusia yang sudah saatnya meninggalkan dunia yang hina ini, Fitrah menikmati nafas terakhirnya setelah sholat Shubuh, kemudian sebelum ia benar-benar pergi untuk selamanya, dia mengatakan “ ibu, aku ingin berjumpa dengan pemuda itu setelah tidur panjangku ini”
Isi kepalaku serasa ingin muncrat keluar untuk mencari ruang udara, otak dan jantungku bergetar begitu kuat dan cepat, nafasku terengah-engah.
Aku berteriak “ aaaaaargh”.
“Der,, derry … bangun-bangun sudah jam 7 nih. . ., nanti kamu telat berangkat sekolah lagi, setiap tidur pasti kamu ngigau. Ayo bangun. . . cepat!”. Suara mama yang khas membangunkanku.
Husein El- Rumi
Sudah hampir kutunggu setengah jam, tapi tetap saja masih belum kelihatan si Rouf. Anak sesepuh desa suka tani itu, “Huft” lama-lama aku jadi patung disini nunggu Rouf yang katanya tadi ngajak ke Pasar Malam bareng, kenapa sih ini anak?, batinku di dalam hati. Namun tiba-tiba kegrundelan hatiku itu pecah. Tatkala puluhan Santri Putri beranjak pulang dari pengajian Agama Ustadz Syaifudin di halaman sekolah MI Tanbihul Ghofilin. Disana Nampak sesosok Wanita Suci berkerudung hijau muda dengan wajah yang bersinar cerah dihiasi tatapan mata yang sejuk, lesung pipit yang merona dan senyumnya yang benar-benar mempesona. Dengan pikiran melayang mata ini terus memandangnya, hingga “dor” suara itu mengejutkanku dari belakang, ternyata Rouf yang lama sekali datangnya itu menyebabkanku kesal ditengah kegembiraan, “ayo der, kita berangkat sekarang”, ujar Rouf tanpa perasaan berdosa. Dalam hatiku geram juga, gaya mengajaknya seperti itu. “ pergi kemana, ke London, jam segini kowe baru kesini, darimana saja sih !”, dengan nada emosi aku mengatakannya, tapi kemudian dia menjelaskan alasannya yang bisa diterima oleh akal, bahwasanya keterlambatannya gara-gara mengantarkan Neneknya ke Rumah Sakit kota sejak habis Maghrib tadi.
“Ya sudahlah kalau begitu, ayo berangkat”. Ajakku dengan nada-nada sedikit kesal.
Perjalanan kami, diiringi dengan canda tawa, tak jarang lirik kanan lirik kiri. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sosok Wanita yang beriri menunggu pesanan bakso.
“ Tidak salah lagi, Wanita itu yang tadi memakai Jilbab hijau muda, cantiknya ya Allah…, anggun sekali.”
“ itu Fitrah der, anaknya pak lurah, dia Mondok di Ponpes Az Zahroh, Probolinggo, Tapi sekarang lagi di rumah. hati-hati saingannya banyak lho !”. Ucap Rouf di tengah lamunku.
“Siapa juga yang pengen nembak dia, aku kan Cuma lihat dia saja. Eh. . . kamu malah nyeramahin aku”. Kita terus larut dalam canda tawa, sampai langkah kita akhirnya tepat berada di depan gerbang Pasar Malam.
Rouf, Nampak begitu menikmati suasana Pasar Malam. Tapi aku justru malas untuk menikmati semua permainan, ataupun hanya sekedar lihat-lihat banyak pedagang yang berjualan. Tidak tahu mengapa ?, bayangku melayang-layang kepada Fitrah, senyumannya yang begitu anggun, membuat akalku terus larut dalam lamunan. Apakah aku pantas bersanding dengannya, seorang calon Ustadzah, sedangkan aku hanya orang biasa yang tidak begitu mengenal Agama.
Malam semaki larut, aku dan Rouf kembali ke rumah masing-masing.
Kurasakan jantungku berdebar-debar saat merebah di atas kasur, kuputuskan dengan keberanian diri untuk menulis sepucuk surat untuk Fitrah.
Kubiarkan penaku menari-nari merangkai kata di atas kertas putih yang membisu.
Pukul 02.00 WIB pagi.
Surat telah terangkai, kubiarkan jasad ini beristirahat dari begitu dahsyatnya kehebatan cinta. Pelan tapi pasti, tiba-tiba semua Nampak gelap dan tenang...
Matahari Nampak begitu panas, membakar semangatku untuk mengantarkan sepucuk surat jeritan jiwa untuk sang perumpamaan bidadari surga.
Aku terheran-heran, mengapa banyak orang memakai pakaian hitam-hitam di sepanjang jalan ini.
Aku semakin kaget, ketika pasukan hitam-hitam itu dari rumah Fitrah. dan ku bertanya kepada salah satu pemuda yang lewat.
“ ada apa ini mas, kok rame sekali?”
Pemuda itu menjawab “ oh. . .itu dek anaknya pak lurah yang bernama Fitrah meninggal dunia sehabis Shubuh tadi.”
Seakan-akan jiwaku tersentak petir yang Maha Dahsyat, tubuhku lemas, kepalaku pening mendengar semua itu.
Setiba di depan pintu ada seorang ibu setengah baya menghampiriku, dia menanyakan bahwa apakah aku membawa surat.
“iya bu, surat untuk anak ibu sebenarnya”. Ibu itu menangis. Dia menceritakan kepadaku bahwa tatkala Fitrah bangun tidur sebelum adzan shubuh, Fitrah menemuinya dan bercerita bahwa ia mimpi indah sekali, rumah terlihat ramai, kemudian datang seorang pemuda tampan dan sopan membawakannya surat, dan setelah dibaca, Fitrah mengatakan kalau surat yang dibuat oleh pemuda itu sangat indah, sampai-sampai Fitrah ingin menemui pemuda tersebut di dunia nyata. akan tetapi sang Izrail telah datang dengan keperkasaannya untuk mengambil jiawa-jiwa manusia yang sudah saatnya meninggalkan dunia yang hina ini, Fitrah menikmati nafas terakhirnya setelah sholat Shubuh, kemudian sebelum ia benar-benar pergi untuk selamanya, dia mengatakan “ ibu, aku ingin berjumpa dengan pemuda itu setelah tidur panjangku ini”
Isi kepalaku serasa ingin muncrat keluar untuk mencari ruang udara, otak dan jantungku bergetar begitu kuat dan cepat, nafasku terengah-engah.
Aku berteriak “ aaaaaargh”.
“Der,, derry … bangun-bangun sudah jam 7 nih. . ., nanti kamu telat berangkat sekolah lagi, setiap tidur pasti kamu ngigau. Ayo bangun. . . cepat!”. Suara mama yang khas membangunkanku.
Husein El- Rumi
puisi : masih terasa
Published :
16.50
Author :
M Husain maulana
(bait untuk kalian)
entahlah saat itu menit menancap
pada rimbunan hujan
yang tak bertepi
namun mengalun syahdu
pada jiwa-jiwa kalian
kudengar dia lama menahannya
tentang ayat-ayat rindu
yang membelenggu
dalam irama indah sang merpati
menebarkan laman kenangan
kenangan deburan ombak dermaga
kulihat kau juga sama
terusik kalam-kalam rindu
yang terukir
dalam pahat pesonannya
kau pun terbayang-bayang
melayang lepas menjelajah samudra
masih terasa
guyuran hujan kemarin
yang menusuk dataran tanah
meluber ke Muara tak berujung
kau senang
dia riang
mereka dan aku sebagai saksi
kau dan dia telah terajut
tersulam dalam catatan hati
menuliskan bait-bait rasa
yang tak terucap
dan tak akan bisa terucap
terikrar rasa kalian
merasuk agung dipenghujung palung
palung qalbu yang dalam
biarkan rasa menari
pada simfoni getar cinta kalian berdua
emha As-sofa 15 januari 2012
entahlah saat itu menit menancap
pada rimbunan hujan
yang tak bertepi
namun mengalun syahdu
pada jiwa-jiwa kalian
kudengar dia lama menahannya
tentang ayat-ayat rindu
yang membelenggu
dalam irama indah sang merpati
menebarkan laman kenangan
kenangan deburan ombak dermaga
kulihat kau juga sama
terusik kalam-kalam rindu
yang terukir
dalam pahat pesonannya
kau pun terbayang-bayang
melayang lepas menjelajah samudra
masih terasa
guyuran hujan kemarin
yang menusuk dataran tanah
meluber ke Muara tak berujung
kau senang
dia riang
mereka dan aku sebagai saksi
kau dan dia telah terajut
tersulam dalam catatan hati
menuliskan bait-bait rasa
yang tak terucap
dan tak akan bisa terucap
terikrar rasa kalian
merasuk agung dipenghujung palung
palung qalbu yang dalam
biarkan rasa menari
pada simfoni getar cinta kalian berdua
emha As-sofa 15 januari 2012
puisi : umpatan kerinduan
Published :
16.49
Author :
M Husain maulana
umpatan kerinduan
oleh Maulana Husain Rumi pada 15 Januari 2012 pukul 19:43
merenung merangkai rintikan hujan
semakin lama anganku terlarut
semakin besar kerinduanku membuncah
aku tak kuasa
menahan gejolak rindu tak tertahan
lisanku mengumpat
bangsat
aku kangen
aku rindu
menit-menit yang telah lama mengalir
bagiku abad yang tengah terukir
aku semakin menjerit
keparat kau rindu
kau bangun istana indah dihatiku
tapi sekarang kau dimana
pondasi ini butuh rasamu
kau telah menggoreskan pena kehidupan
ya, goresan pena yang menyelami bumi cakrawala
apa kau telah membuang rekaman kisah kemarin
kisah yang terpahat dalam Marmer diariku
dan tersampul oleh binar kesucian cahaya
kini jasadku bersandar di altar penenang raga
kudendangkan ayat-ayat rinduku ini
dengarlah kasih
dengarkan cinta
umpatanku
pada marmer yang membisu
perihal kerinduanku
yang bersua di bayang-bayangmu
emha as-sofa
teaterikal puisi cak ihan malaka
Published :
16.48
Author :
M Husain maulana
Kwe wes gawe aku joged
Ing duwur watu nisan ingsun ,dewe
Getihmu sing mambu anyer
lugur nipis nang pangkuwan
Awanepun nutupi wulan
Bismillah…
Niat ingsun miwiti kanti bismillah
Sabarang urip kang tinarimo pati
Sabarang pati kang nyengkuyung urip
Kuhantar puja paling bertuah
Saat redup membayang disungaimu
Labuh kutubuhkan dipembuluh
Serupa air diseruling; ruhku mewarnai udara
Yang pernah kau hirup dan rasa
Meski tinggal sia-sia
Kuberkabung atasmu dengan perayaan terakbar
Dari segenap ritus; agar altar terbasuh
Dari segala belasungkawa
Bunga tetap mekar dan tak pernah gugur kedasar
Atau disebar dalam dupa,
Kukenang hening airmata;
Supaya kerling dunia tak berpaling duka
Supaya kau bisa berakhir dengan purna
Bersemayam dengan piyama kebesaran
Sekarang tidur panjang sepasang pengantin
Dan baying-bayangmu terus berkelamin
Bersama waktu
Sabtu, 07 Januari 2012
Tips menulis cerpen
Published :
02.49
Author :
M Husain maulana
Struktur
Para penulis pemula seringkali disarankan untuk menggunakan pengandaian berikut ini ketika mulai menyusun cerpen mereka:
- Taruh seseorang di atas pohon.
- Lempari dia dengan batu.
- Buat dia turun.
Perencanaan Cerpen
Taruh seseorang di atas pohon: munculkan sebuah keadaan yang harus dihadapi tokoh utama cerita.
Lempari dia dengan batu: Dari keadaan sebelumnya, kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan si tokoh utama tadi. Contoh: Kesalahpahaman, kesalahan identitas, kesempatan yang hilang, dan sebagainya.
Buat dia turun: Tunjukkan bagaimana tokoh Anda akhirnya mengatasi masalah itu. Pada beberapa cerita, hal terakhir ini seringkali juga sekaligus digunakan sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis. Contoh: Kekuatan cinta, kebaikan mengalahkan kejahatan, kejujuran adalah kebijakan terbaik, persatuan membawa kekuatan, dsb.
Ketika Anda selesai menulis, selalu (dan selalu) periksa kembali pekerjaan Anda dan perhatikan ejaan, tanda baca dan tata bahasa. Jangan menyia-nyiakan kerja keras Anda dengan menampilkan kesan tidak profesional pada pembaca Anda.
Praktekkan perencanaan sederhana ini pada tulisan Anda selanjutnya.
Tema
Setiap tulisan harus memiliki pesan atau arti yang tersirat di dalamnya. Sebuah tema adalah seperti sebuah tali yang menghubungkan awal dan akhir cerita dimana Anda menggantungkan alur, karakter, setting cerita dan lainnya. Ketika Anda menulis, yakinlah bahwa setiap kata berhubungan dengan tema ini.
Ketika menulis cerpen, bisa jadi kita akan terlalu menaruh perhatian pada satu bagian saja seperti menciptakan penokohan, penggambaran hal-hal yang ada, dialog atau apapun juga, untuk itu, kita harus ingat bahwa kata-kata yang berlebihan dapat mengaburkan inti cerita itu sendiri.
Cerita yang bagus adalah cerita yang mengikuti sebuah garis batas. Tentukan apa inti cerita Anda dan walaupun tema itu sangat menggoda untuk diperlebar, Anda tetap harus berfokus pada inti yang telah Anda buat jika tidak ingin tulisan Anda berakhir seperti pembukaan sebuah novel atau sebuah kumpulan ide-ide yang campur aduk tanpa satu kejelasan.
Tempo Waktu
Cerita dalam sebuah cerpen yang efektif biasanya menampilkan sebuah tempo waktu yang pendek. Hal ini bisa berupa satu kejadian dalam kehidupan karakter utama Anda atau berupa cerita tentang kejadian yang berlangsung dalam sehari atau bahkan satu jam. Dan dengan waktu yang singkat itu, usahakan agar kejadian yang Anda ceritakan dapat memunculkan tema Anda.
Karena Anda hanya memiliki jumlah kata-kata yang terbatas untuk menyampaikan pesan Anda, maka Anda harus dapat memilih setting cerita dengan hati-hati. Disini berarti bahwa setting atau tempat kejadian juga harus berperan untuk turut mendukung jalannya cerita. Hal itu tidak berarti Anda harus selalu memilih setting yang tipikal dan mudah ditebak. Sebagai contoh, beberapa setting yang paling menakutkan bagi sebuah cerita seram bukanlah kuburan atau rumah tua, tapi tempat-tempat biasa yang sering dijumpa pembaca dalam kehidupan sehari-hari mereka. Buatlah agar pembaca juga seolah-olah merasakan suasana cerita lewat setting yang telah dipilih tadi.
Penokohan
Untuk menjaga efektivitas cerita, sebuah cerpen cukup memiliki sekitar tiga tokoh utama saja, karena terlalu banyak tokoh malah bisa mengaburkan jalan cerita Anda. Jangan terlalu terbawa untuk memaparkan sedetail-detailnya latar belakang tiap tokoh tersebut. Tentukan tokoh mana yang paling penting dalam mendukung cerita dan fokuskan diri padanya. Jika Anda memang jatuh cinta pada tokoh-tokoh Anda, pakailah mereka sebagai dasar dalam novel Anda kelak.
Dialog
Jangan menganggap enteng kekuatan dialog dalam mendukung penokohan karakter Anda, sebaliknya dialog harus mampu turut bercerita dan mengembangkan cerita Anda. Jangan hanya menjadikan dialog hanya sebagai pelengkap untuk menghidupkan tokoh Anda. Tiap kata yang ditaruh dalam mulut tokoh-tokoh Anda juga harus berfungsi dalam memunculkan tema cerita. Jika ternyata dialog tersebut tidak mampu mendukung tema, ambil langkah tegas dengan menghapusnya.
Buat paragraf pembuka yang menarik yang cukup membuat pembaca penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Pastikan bahwa alur Anda lengkap, artinya harus ada pembukaan, pertengahan cerita dan penutup. Akan tetapi, Anda juga tidak perlu terlalu berlama-lama dalam membangun cerita, sehingga klimaks atau penyelesaian cerita hanya muncul dalam satu kalimat, dan membuat pembaca merasa terganggu dan bingung dalam artian negatif, bukannya terpesona. Jangan pula membuat "twist ending" (penutup yang tak terduga) yang dapat terbaca terlalu dini, usahakan supaya pembaca tetap menebak-nebak sampai saat-saat terakhir. Jika Anda membuat cerita yang bergerak cepat, misalnya cerita tentang kriminalitas, jagalah supaya paragraf dan kalimat-kalimat Anda tetap singkat. Ini adalah trik untuk mengatur kecepatan dan memperkental nuansa yang ingin Anda sajikan pada pembaca.
Baca ulang
Pembaca dapat dengan mudah terpengaruh oleh format yang tidak rapi, penggunanaan tanda baca dan tata bahasa yang salah. Jangan biarkan semua itu mengganggu cerita Anda, selalu periksa dan periksa kembali.
Bahan diterjemahkan dan diringkas oleh Ary dari sumber:
Nama Situs: Write 101
Alamat URL: http://www.write101.com
Langganan:
Komentar (Atom)
bintang kerlip
widget gaara
butterfly
google translate
Bookmarks
jam
Archive
-
▼
2012
(20)
-
▼
Januari
(10)
- kegalauan rindu di penghujung awal tahun
- cerpen : fitrah
- puisi : masih terasa
- puisi : umpatan kerinduan
- teaterikal puisi cak ihan malaka
- Tips menulis cerpen
- tips menulis efektif
- Misteri Kota Iblis Di Cina
- Wow !! Wanita Memiliki 10 Kelebihan Dibanding Pria
- Fantastik...Raih Gelar Profesor Di Usia 19 Tahun
-
▼
Januari
(10)
Entri Populer
-
22:51 Diposkan oleh Mr.Sumbang Label: Kumpulan Puisi *Kupanggil Namamu Sambil menyeberangi sepi, Kupanggili namamu, wanitaku Apakah kau t...
-
Kearifan Cinta CINTA yang dibangkitkan oleh khayalan yang salah dan tidak pada tempatnya bisa saja menghantarkannya pada keadaan ekst...
-
وعين الرضا عن كل عيب كليلة * كما أن عين السخط تبدىالمساويا Pandangan simpati menutup segala cela Sebagaimana pandangan benci menampakkan s...
-
OPINI | 02 December 2010 | 03:23 Dibaca: 905 Komentar: 2 Nihil Tulisan ini sebenarnya hanya timbul dari buah keisengan da...
-
di ambil dari buku “Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu” karya; IBNU QAYYIM AL JAUZIYYAH rahimahullah “wahai yang bersem...
-
Yaiyalah.com - Pelatih tim nasional U-23, Rahmad Darmawan, menilai pemain asuhannya di timnas, Andik Firmansyah , lebih cocok bermain di A...
-
Nuansa malam terasa hambar Detakan samudra waktu membisu Aku rapuh Kala cinta bersemayam di dada Jasadku reot Dihantam dahsyatnya...
-
Sunting umpatan kerinduan oleh Maulana Husain Rumi pada 15 Januari 2012 pukul 19:43 telah lama aku terpekur merenung merangkai rintikan hu...
-
oleh : maulana husain rumi demi keagungan singgasana mayapada aku terasingkan oleh gemerlap cahaya kefanaan terpojokkan hamparan agung ...
-
maaf, karena aku telah mencintaimu bukan sekedar teman atau sahabat, tapi rasa ini terasa begitu maha dasyat,,, sulit untuk diungkapkan...
Pengikut
kompas newspaper
fb words
Our Partners
Resources
oke
]
Total Tayangan Halaman
musik box
About Me
- M Husain maulana
- "yang paling aku takutkan di dunia ini adalah menjadi orang yang biasa"