banner

menu

Minggu, 15 Juli 2012

Kisah Wayang dan Kisah Para Presiden Indonesia



OPINI | 02 December 2010 | 03:23Dibaca: 905   Komentar: 2   Nihil
Tulisan ini sebenarnya hanya timbul dari buah keisengan dari penulis, jadi nanti para pembaca dimohon jangan marah, mangkel atau menggrundel apabila ada pernyataan dari penulis yang dirasa kurang tepat menurut hemat para pembaca.
Tulisan ini hanya sekedar hasil gotak-gatik-gatuk, sesuatu yang mungkin tidak pas atau kurang tepat tapi berusaha ditepat-tepatkan, jadi sekali lagi jangan dimasukkan kedalam hati.
Penulis bukanlah seorang dalang dan bukan pula pakar pewayangan, penulis hanyalah sekedar penikmat dan penggemar cerita wayang. Bila nanti ada kekeliruan dan kesalahan dalam penafsiran cerita dan tokoh dari wayang mohon kiranya dimaafkan.
Menurut hemat penulis ada sedikit kemiripan antara kisah para presiden Republik Indonesia dengan beberapa kisah-kisah dalam pewayangan. Dan untuk menyingkat kata dan kalimat berikut ini akan penulis uraikan satu persatu, mulai presiden pertama Republik Indonesia.
1.Kisah presiden Soekarno.
Menurut analisa atau lebih tepatnya penerawangan penulis kisah perjalanan presiden Soekarno sedikit mirip dengan kisah wayang Laire Wisanggeni. Soekarno ketika menjadi presiden RI berusia 44 tahun, termasuk umur yang sangat muda untuk ukuran seorang presiden yang memimpin sebuah negara besar seperti Indonesia ini. Beliau muda, cerdas dan pemberani mirip seperti tokoh wayang Wisanggeni yang juga digambarkan sebagai seorang bocah yang cerdas, sakti dan pemberani.
Kelahiran Wisanggeni sesungguhnya sangat tidak diharapkan oleh para dewa-dewa penghuni Kahyangan, oleh karena itu sejak orok bayi Wisanggeni dirampas dari ibu kandungya (Dewi Destanala) lalu dibuang ke dalam kawah Candradimuka supaya mati tanpa bekas. (Kalo jaman sekarang mungkin akan dimasukan ke dalam selokan, tong sampah atau tempat pembuangan akhir).
Dan celakanya si orok Wisanggeni ini ternyata tidak mati malah sebaliknya menjelma menjadi seorang bocah yang sakti Mandraguna. Kemudian dengan gagah berani muncul dan mengobrak-abrik status quo dewa-dewa penghuni Kahyangan.
Demikian halnya dengan kelahiran (kemerdekaan) Indonesia yang juga berusaha dihalang-halangi oleh kekuatan-kekuatan asing yang pernah menjajah Indonesia yakni Belanda dan Jepang. Namun nyatanya Indonesia muda yang dipimpin oleh seorang presiden yang juga masih muda, berani melawan dengan gagah berani terhadap kekuatan-kekuatan asing tersebut.
Tiga bulan setelah lahir (merdeka) Indonesia sudah berani mengusir dan membuat kocar-kacir pasukan sekutu yang mendarat di Surabaya. Kemudian pada tahun 1948, agresi militer Belanda berhasil dikalahkan melaui strategi perang gerilya. Tahun 1955, Indonesia mampu menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika, yang bertujuan menggalang kekuatan negara-negara dunia ketiga sebagai poros penyeimbang negara-negara Blok Barat dan Blok Timur. Tahun 1961 s/d 1963, melalui Operasi Tri Kora yang heroik Papua Barat berhasil direbut dan Belandapun lari tunggang langgang.
Dewa-dewa dunia saat itu yakni Amerika Serikat dan Uni Sovyet dibikin takjub dan terkagum-kagum melihat sepak terjang Indonesia yang dipimpin oleh seorang presiden yang cerdas, visioner dan pemberani dalam diri Soekarno. Tak salah kiranya jika bung Karno benar-benar menjadi salah satu ikon pemimpin dunia pada saat itu.
2. Kisah presiden Soeharto.
Soeharto adalah seorang presiden yang Jawa dan njawani serta berusaha teguh memegang prinsip-prinsip filosofi Jawa. Beliau berupaya memposisikan dirinya seperti tokoh Semar dalam pewayangan, seorang tokoh kawula (batur atau pembantu) namun berkualitas laksana dewa. Sebagai layaknya tokoh Semar, beliau berkeinginan menjadikan dirinya seperti Manusia setengah dewa, yang artinya adalah sabda pandita ratu, segala titah dan ucapannya harus menjadi hukum atau undang-undang negara.
Dan untuk lebih mencitrakan dirinya seperti tokoh Semar, maka lakon wayang Semar Mbangun Kahyangan menjadi cerita wayang yang laris manis di era Orde Baru. Hampir tiap minggu dilayar kaca televisi ditayangkan tentang cerita tersebut, bahkan tak jarang cerita Semar Mbangun Kahyangan inipun digelar di Istana Negara.
Beliau mengibaratkan dirinya sebagai Semar yang sedang membangun Negeri (Indonesia) sehingga menjadi seperti Kahyangan. Maka gelar bapak pembangunan dengan gencarnya di promosikan keseluruh pelosok negara melalui media public seperti televisi, radio maupun koran.
Namun sayangnya Negeri Kahyangan seperti yang dicita-citakan oleh Soeharto tersebut hanyalah sebuah Khayalan alias mimpi kosong belaka. Bukan kemakmuran yang diperoleh melainkan kebangkrutan disertai hutang luar negeri yang bertumpuk-tumpuk untuk selanjutnya menjadi warisan bagi generasi berikutnya.
3. Kisah presiden Baharudin Jusuf Habibie.
Periode kepemimpinan presiden Habibie adalah masa transisional Indonesia menuju Era Reformasi. Euphoria politik demikian dahsyatnya mengguncang Indonesia setelah hampir selama 32 tahun dibungkam dan dikebiri. Jagoan-jagoan politik bermunculan bagai jamur dimusim penghujan. Tokoh-tokoh masyarakat yang dahulunya ditindas dan dikekang oleh rejim Orde Baru, seperti Gus Dur, Megawati dan lain-lain mulai bermunculan ke ranah public.
Pada periode Habibie ini (meskipun barangkali kurang pas) maka cerita wayang yang mirip adalah kisah Kangsa Adu Jago.
Habibie yang kurang populis dan sangat rendah dukungan politiknya, akhirnya harus memilih mundur dari pencalonan (untuk periode selanjutnya) dan hanya kebagian peran sebagai pengelus Jago (King Maker) yang diharapkan tepat untuk memimpin Indonesia diperiode berikutnya. (Menurut pengakuan beliau ketika diwawancarai di Metro TV, bahwa beliau telah menetapkan 10 nama sebagai calon presiden penggantinya)
Kisah Habibie ini sedikit mirip dengan kisah Prabu Kangsa yang mengundang serta mengumpulkan jago-jago dunia pewayangan untuk kemudian diadu dan dipilih menjadi jagoan paling sakti.
4. Kisah presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Gus Dur, barangkali akan menjadi tokoh presiden yang paling unik dan kontroversial yang pernah ada dalam sejarah bangsa Indonesia. Beliau adalah seorang tokoh Kyai, Ulama, Budayawan sekaligus Politikus yang cukup berpengaruh di Indonesia.
Meskipun ada sedikit hambatan pada masalah kesehatannya, namun diluar dugaan beliau mampu muncul dan menjadi presiden Indonesia. Memimpin Indonesia dalam fase awal Orde Reformasi, dimana kondisi Indonesia   diibaratkan seperti dalam suluk pewayangan Bumi Gonjang-Ganjing Langit Kelap-Kelap Katon.
Kharakter beliau yang humoris, humanis, pluralis serta merakyat, menjadikan lembaga negara yang bernama presiden menjadi tidak lagi sakral dan menakutkan. Istana Negara berubah seperti layaknya Istana Rakyat. Semua protokoler kenegaraan yang ribet dan bertele-tele diubah menjadi lebih sederhana dan longgar.
Beberapa maneuver politik yang dilakukan oleh beliau seringkali bertabrakan dengan pakem perpolitikan yang baku, sehingga huru-hara politik di Indonesiapun menjadi semakin seru dan mengharu biru. Perselisihannya dengan Dewan Perwakilan Rakyat, yang disebutnya sebagai Taman Kanak-Kanak, membuatnya kehilangan dukungan politik dari lembaga negara tersebut. Dan dampaknya beliaupun di impeach dan dilengserkan dari kursi kepresidenan.
Dengan mempertimbangkan keunikan, kenyentrikan dan kenylenehan beliau, maka tak salah kiranya bahwa cerita wayang yang paling mirip adalah kisah Petruk Dadi Ratu.
5. Kisah presiden Megawati Soekarno Putri.
Sangat sulit sebenarnya mencari padanan kisah pewayangan yang mirip dengan kisah presiden Megawati. Tetapi setelah sedikit melakukan improvisasi melaui ilmu gotak-gatik-gatuk seperti tersebut diawal tulisan, maka setidak-tidaknya ada kisah yang mirip dengan kisah presiden Megawati, yakni kisah tentang Dewi Sinta Obong.
Cerita Dewi Sinta Obong, merupakan bagian akhir dari kisah Ramayana. Sebagaimana diceritakan, bahwa setelah berhasil dibebaskan dari penculikan Rahwana, ternyata timbul syak wasangka di dalam hati Prabu Rama Wijaya tentang kesucian Dewi Sinta.
Prabu Rama Wijaya menuduh bahwa Dewi Sinta telah terjamah dan ternoda kesuciannya oleh tangan jahil Rahwana. Maka dari itu untuk membuktikan bahwa dirinya masih suci dan belum ternoda oleh Rahwana, Dewi Sinta melakukan upacara obong (membakar diri). Bila dirinya hangus terbakar dalam api berarti terbukti bahwa kesuciannya telah ternoda, dan bila sebaliknya dia tidak terbakar maka terbukti bahwa dia masih suci.
Megawati demi membuktikan kesungguhannya membangun Indonesia dan melepaskan Indonesia dari jerat hutang piutang luar negeri yang menumpuk, beliau dengan gagah berani juga melakukan upacara obong.
Kalau Dewi Sinta melakukan upacara obongnya dengan cara membakar diri, maka Megawati melakukan upacara obongnya dengan cara mengobong (baca: menjual) aset-aset milik negara keluar negeri. Sehingga tak mengherankan bila banyak sekali aset-aset milik negara baik yang berupa perusahaan BUMN, maupun aset-aset yang lainnya (Pertambangan, Kapal Tanker, Gas Bumi dll) yang jatuh ke tangan investor asing.
6. Kisah presiden Soesilo Bambang Yudoyono.
Presiden Indonesia yang sekarang sedang menjabat ini, menurut banyak pengamat politik (sekali lagi menurut para pengamat politik dan bukan menurut pandangan penulis) adalah presiden yang gemar akan pencitraan. Lebih mengedepankan hal-hal yang bertujuan mengatrol citra dan tingkat kepopulerannya.
Di periode pertama pemerintahannya memang terkesan bahwa beliau ini cukup commit untuk memback up penegakan supremasi hukum di Indonesia, tak salah bila KPK menjadi lembaga yang demikian garang melibas praktek-praktek korupsi di Indonesia tanpa pandang bulu, bahkan beliaupun merelakan besannya menjadi pesakitan di tangan KPK.
Namun dikurun kedua kepemimpinannya justeru banyak sekali kebijakan yang dimunculkan oleh beliau yang bersifat bias dan tidak tepat sasaran. Meskipun beliau berupaya agar terkesan tegas, uncompromised dan lugas terutama menyangkut kebijakan-kebijakan dibidang penegakan supremasi hukum (law enforcement) namun nyatanya yang terjadi adalah sebaliknya, kebijakan yang dimunculkannya malah terkesan memble dan lemah.
Banyak kasus semacam Lumpur Lapindo Gate, Century Gate, Gayus & Mafia Perpajakan Gate dan lain-lain akhirnya menjadi menguap dan hilang akibat kekurang tegasan beliau.
Demikian pula dibidang ekonomi, program-program seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai), pembagian sembako gratis dll, beliau munculkan agar terkesan ada kepedulian pemerintah terhadap rakyat kecil. Tetapi hal-hal pokok dan mendasar seperti program peningkatan kekuatan ekonomi kerakyatan dan swasembada pangan malah tidak tersentuh.
Di bidang politik luar negeri apalagi, semakin terlihat jelas bahwa Indonesia benar-benar semakin lemah dan tidak diperhitungkan dalam percaturan politik Internasional di era kepemimpinan beliau ini.
Dan setelah memilih-milih kisah wayang yang paling pas, maka penulis menyimpulkan (barangkali) yang paling mirip dengan kisah kepemimpinan beliau adalah kisahBambangan Cakil.
Sebagaimana dalam kisah Bambangan Cakil, sang Cakil selalu bermain dengan indah dan mempesona di awal cerita, dengan gerakan-gerakan tarinya yang eksentrik, dinamis dan enerjik, sang Cakil mampu memukau dan menghinoptis para penontonnya.
Namun sayangnya pada saat sang Arjuna telah muncul dan bertarung dengannya, sang Cakilpun akhirnya harus mati tertikam oleh kerisnya sendiri.
NB: Sekali lagi tulisan ini hanyalah buah keisengan dari penulis, so don’t think it too seriously.
Doha, 01 Desember 2010
Wasalam & Semoga Terhibur.
Rudi Setiawan
</

Sabtu, 12 Mei 2012

Ayam mati di Meja Presiden


Oleh Imron Supriyadi
Salah satu tugas pokok Nabi Muhammad SAW di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak (makarimal akhlaq). Itulah secuil kalimat awal yang sempat saya kutip dari Kiai Gombloh, salah satu guru ngaji saya di Tanjung Enim. Tetapi, untuk melakukan penyempurnaan akhlak, Muhammad tidak kemudian merubah sifat dasar manusia, yang cenderung menyerupai hewan.
“Lho, kok menyerupai hewan,?” tanya saya heran.
“Manusia punya rasa haus dan lapar, hewan juga punya.
Manusia punya nafsu, hewan juga punya. Manusia punya rasa kantuk, hewan juga punya. Bukankah itu sifat hewan yang sama dengan manusia?” Kiai Gombloh bertanya sambil meyakinkan saya ketika itu.
Tetapi menurutnya, yang disempurnakan Muhammad bukan sifat dasar manusia ini. Bukan juga fisik. Sebab kalau fisik, pada dasarnya manusia ini mahuk yang kotor.
“Tetapi, manusia kan diciptakan dengan sempurna? Kenapa kiai katakan manusia itu kotor?” sergah saya penasaran.
“Hidung yang mancung ini, isinya cuma tai hidung.
Kalau pilek yang keluar ingus. Kemudian mata kita yang bersinar ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan tai mata, rembes atau belek. Mulut kita yang indah ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan iler, yang baunya sangat tidak enak.
Dan dubur (anus) kita yang setiap hari kita bersihkan hanya mengeluarkan tinja. Dan kalau kamu mau sadar, kita ini juga lahir dari tempat pembuangan kotoran,” jelas Kiai.
Matanya mengamati saya untuk meyakinkan kalau saya benar-benar paham dengan ucapannya. Saya mangut-mangut.
Bermula dari inilah, menurut Kiai Gombloh, Muhammad diutus ke bumi untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak adalah pakaian.
Akhlak adalah ruh dalam diri manusia, yang menjadi penentu, apakah manusia akan menjadi mahluk mulia atau sebaliknya terjerumus dalam kubangan dosa dan kehinaan.
“Akhlak itu pakaian,?” tanya saya lirih. Kiai mendengar keraguan batin saya.
“Kalau kamu tidak percaya, sekarang kamu keluar dari ruangan ini, dan berdiri di tempat orang ramai dengan tidak memakai baju selembar pun. Maka saat itulah kamu akan sadar, kalau saat itu kamu akan tahu perbedaan manusia dengan hewan. Dan kamu akan tahu kalau akhlak adalah sama dengan pakaianmu,” tegasnya.
Tetapi, ketika manusia berusaha menyempurnakan akhlaknya, selalu dihadapkan pada dua pilihan, antara halal dan haram, dan berbagai rayuan dunia yang menggiurkan syahwat kebinatangan. Tidak jarang, sebagian manusia yang kemudian terjerembab dan jatuh ke dalamnya. Jadilah manusia kembali pada kehinaan. (asfalasaa filin)
“Supaya manusia kembali pada kemuliaan, bagaimana?”
“Ya, itu tadi, manusia harus dipoles dengan akhlak Al-Quran, supaya manusia ini bisa kembali kepada fitrahnya manusia yang pada awalnya suci dan bersih!”
“Untuk berjuang mempertahankan kemuliaan ini, kamu harus banyak belajar dengan ayam yang bisa naik ke meja presiden,” kata Kiai Gombloh sambil tertawa.
Saya sedikit bingung dengan ucapannya. Sebab dari awal berbincang soal akhlak, tiba-tiba Kiai Gombloh menyuruh saya belajar dengan ayam.
“Ayam kiai?” tanya saya makin penasaran.
Ia hanya mengangguk.
“Perjuangan ayam untuk bisa naik ke meja presiden, sangat panjang perjalannya. Tetapi itu dilakukan untuk memosisikan dirinya agar menjadi mahluk yang mulia di mata presiden,” kata kiai tanpa membaca pikiran saya yang makin bingung.
“Sama seperti kita. Untuk mempertahankan akhlak dan kemuliaan di hadapan Allah, kita juga memerlukan perjuangan yang tidak mudah. Perlu kesabaran. Siap dilempar-lemparkan ke sana kemari. Bersedia menerima kenikmatan dan musibah.
Sanggup menahan diri dari godaan duniawi. Siap menaggung kepedihan, kesengsaraan hidup dan lain sebagainya,” katanya.
“Sekali saja kita terjerumus dalam gelimang tipuan duniawi, dan tidak sabar terhadap kebijakan dari langit, kita akan kembali menjadi mahluk yang kotor tadi,” tegasnya.
“Ayam juga begitu. Untuk menjadi mahluk yang mulia di mata presiden, ayam itu sanggup ditangkap oleh tukang ayam. Kemudian kakinya diikat. Setelah tiba waktunya, ayam itu juga harus siap disembelih. Pedih. Sakit dan berdarah-darah”
“Tidak cukup sampai disitu. Setelah disembelih, dimasukkan dalam air panas. Kemudian dicabuti bulu-bulunya. Ditelanjangi habis, persis ketika ayam itu baru menetas dari telurnya. Ia juga seperti manusia ketika lahir, tidak ada sesuatu apapun yang menempel di badannya, kecuali kesucian!”
Saya menunggu lanjutan kalimatnya. Belum jelas kemana hubungan antara perjuangan kemuliaan ayam dan kemuliaan manusia.
“????”
Saya terdiam sesaat. Saya masih terus menunggu kesimpulan akhir dari cerita ayam dari Kiai Gobloh.
“Setelah semua dilucuti, ayam juga harus siap dipotong-potong.
Perutnya dibelah. Semua organ tubuhnya dikeluarkan. Disayat dan dibersihkan. Sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, ayam juga harus bersedia dilumuri dengan bumbu.
Ada garam, lada, ketumbar, bawang merah, bawang putih dan sedikit cabe. Kamu bisa bayangkan, kalau kita luka kecil saja, bila dilumuri garam akan sangat pedih, lalu bagaimana dengan ayam yang dilumat habis dalam wajan dengan bumbu dapur?”
Saya merenung sejenak, sambil membayangkan bagaimana pedihnya luka di tubuh ayam yang harus dilumuri garam dan cabe, sambil mengumpakan kalau ayam itu saya.
“Tidak sampai di situ perjuangan ayam. Setelah dilumuri bumbu dapur, ayam harus menjalani proses akhir sebelum sampai pada kemuliaannya. Ayam harus digoreng dengan minyak panas, atau juga direbus dengan air mendidih, sampai dagingnya empuk.”
“Setelah perjuangan yang pedih ini selesai, barulah ayam diletakkan di tempat yang bersih, untuk kemudian disajikan di meja presiden. Sampailah ayam pada posisi yang mulia, meskipun harus ditebus dengan kematian. Tetapi, kalau ayam tidak berjuang keras, kemudian saat dia hidup melompat ke meja presiden, bukan kemuliaan yang ia dapat tetapi justeru pengusiran dari meja presiden. Kenapa? Karena ayam itu dianggap kurang ajar dan merusak citra presiden,” Kiai Gombloh kembai tertawa.
“Tetapi dengan tebusan kematian, ayam itu demikian puas karena perjuangannya telah sampai pada kemuliaan. Selain sampai di meja presiden, ayam itu bisa dinikmati oleh siapa saja, kemudian mengajarkan pada kita untuk bersyukur karena tubuh kita mendapat tambahan protein hewani dari perjuangan kematian ayam yang sampai di meja presiden atau di meja makan kita”
Bila ayam saja siap berkorban sampai pada titik kematian untuk menjadikan dirinya sebagai mahluk yang mulia, lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah menyiapkan diri untuk berjuang keras mempertahankan akhlaq demi sebuah kemuliaan di mata Sang Pencipta, sebagaimana ayam yang berjuang menuju meja presiden?
BTN Krg. Asam
Tanjung Enim, 9 April 2009
Penulis adalah Pelaku Sastra di Palembang

Ayam mati di Meja Presiden


Oleh Imron Supriyadi
Salah satu tugas pokok Nabi Muhammad SAW di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak (makarimal akhlaq). Itulah secuil kalimat awal yang sempat saya kutip dari Kiai Gombloh, salah satu guru ngaji saya di Tanjung Enim. Tetapi, untuk melakukan penyempurnaan akhlak, Muhammad tidak kemudian merubah sifat dasar manusia, yang cenderung menyerupai hewan.
“Lho, kok menyerupai hewan,?” tanya saya heran.
“Manusia punya rasa haus dan lapar, hewan juga punya.
Manusia punya nafsu, hewan juga punya. Manusia punya rasa kantuk, hewan juga punya. Bukankah itu sifat hewan yang sama dengan manusia?” Kiai Gombloh bertanya sambil meyakinkan saya ketika itu.
Tetapi menurutnya, yang disempurnakan Muhammad bukan sifat dasar manusia ini. Bukan juga fisik. Sebab kalau fisik, pada dasarnya manusia ini mahuk yang kotor.
“Tetapi, manusia kan diciptakan dengan sempurna? Kenapa kiai katakan manusia itu kotor?” sergah saya penasaran.
“Hidung yang mancung ini, isinya cuma tai hidung.
Kalau pilek yang keluar ingus. Kemudian mata kita yang bersinar ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan tai mata, rembes atau belek. Mulut kita yang indah ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan iler, yang baunya sangat tidak enak.
Dan dubur (anus) kita yang setiap hari kita bersihkan hanya mengeluarkan tinja. Dan kalau kamu mau sadar, kita ini juga lahir dari tempat pembuangan kotoran,” jelas Kiai.
Matanya mengamati saya untuk meyakinkan kalau saya benar-benar paham dengan ucapannya. Saya mangut-mangut.
Bermula dari inilah, menurut Kiai Gombloh, Muhammad diutus ke bumi untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak adalah pakaian.
Akhlak adalah ruh dalam diri manusia, yang menjadi penentu, apakah manusia akan menjadi mahluk mulia atau sebaliknya terjerumus dalam kubangan dosa dan kehinaan.
“Akhlak itu pakaian,?” tanya saya lirih. Kiai mendengar keraguan batin saya.
“Kalau kamu tidak percaya, sekarang kamu keluar dari ruangan ini, dan berdiri di tempat orang ramai dengan tidak memakai baju selembar pun. Maka saat itulah kamu akan sadar, kalau saat itu kamu akan tahu perbedaan manusia dengan hewan. Dan kamu akan tahu kalau akhlak adalah sama dengan pakaianmu,” tegasnya.
Tetapi, ketika manusia berusaha menyempurnakan akhlaknya, selalu dihadapkan pada dua pilihan, antara halal dan haram, dan berbagai rayuan dunia yang menggiurkan syahwat kebinatangan. Tidak jarang, sebagian manusia yang kemudian terjerembab dan jatuh ke dalamnya. Jadilah manusia kembali pada kehinaan. (asfalasaa filin)
“Supaya manusia kembali pada kemuliaan, bagaimana?”
“Ya, itu tadi, manusia harus dipoles dengan akhlak Al-Quran, supaya manusia ini bisa kembali kepada fitrahnya manusia yang pada awalnya suci dan bersih!”
“Untuk berjuang mempertahankan kemuliaan ini, kamu harus banyak belajar dengan ayam yang bisa naik ke meja presiden,” kata Kiai Gombloh sambil tertawa.
Saya sedikit bingung dengan ucapannya. Sebab dari awal berbincang soal akhlak, tiba-tiba Kiai Gombloh menyuruh saya belajar dengan ayam.
“Ayam kiai?” tanya saya makin penasaran.
Ia hanya mengangguk.
“Perjuangan ayam untuk bisa naik ke meja presiden, sangat panjang perjalannya. Tetapi itu dilakukan untuk memosisikan dirinya agar menjadi mahluk yang mulia di mata presiden,” kata kiai tanpa membaca pikiran saya yang makin bingung.
“Sama seperti kita. Untuk mempertahankan akhlak dan kemuliaan di hadapan Allah, kita juga memerlukan perjuangan yang tidak mudah. Perlu kesabaran. Siap dilempar-lemparkan ke sana kemari. Bersedia menerima kenikmatan dan musibah.
Sanggup menahan diri dari godaan duniawi. Siap menaggung kepedihan, kesengsaraan hidup dan lain sebagainya,” katanya.
“Sekali saja kita terjerumus dalam gelimang tipuan duniawi, dan tidak sabar terhadap kebijakan dari langit, kita akan kembali menjadi mahluk yang kotor tadi,” tegasnya.
“Ayam juga begitu. Untuk menjadi mahluk yang mulia di mata presiden, ayam itu sanggup ditangkap oleh tukang ayam. Kemudian kakinya diikat. Setelah tiba waktunya, ayam itu juga harus siap disembelih. Pedih. Sakit dan berdarah-darah”
“Tidak cukup sampai disitu. Setelah disembelih, dimasukkan dalam air panas. Kemudian dicabuti bulu-bulunya. Ditelanjangi habis, persis ketika ayam itu baru menetas dari telurnya. Ia juga seperti manusia ketika lahir, tidak ada sesuatu apapun yang menempel di badannya, kecuali kesucian!”
Saya menunggu lanjutan kalimatnya. Belum jelas kemana hubungan antara perjuangan kemuliaan ayam dan kemuliaan manusia.
“????”
Saya terdiam sesaat. Saya masih terus menunggu kesimpulan akhir dari cerita ayam dari Kiai Gobloh.
“Setelah semua dilucuti, ayam juga harus siap dipotong-potong.
Perutnya dibelah. Semua organ tubuhnya dikeluarkan. Disayat dan dibersihkan. Sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, ayam juga harus bersedia dilumuri dengan bumbu.
Ada garam, lada, ketumbar, bawang merah, bawang putih dan sedikit cabe. Kamu bisa bayangkan, kalau kita luka kecil saja, bila dilumuri garam akan sangat pedih, lalu bagaimana dengan ayam yang dilumat habis dalam wajan dengan bumbu dapur?”
Saya merenung sejenak, sambil membayangkan bagaimana pedihnya luka di tubuh ayam yang harus dilumuri garam dan cabe, sambil mengumpakan kalau ayam itu saya.
“Tidak sampai di situ perjuangan ayam. Setelah dilumuri bumbu dapur, ayam harus menjalani proses akhir sebelum sampai pada kemuliaannya. Ayam harus digoreng dengan minyak panas, atau juga direbus dengan air mendidih, sampai dagingnya empuk.”
“Setelah perjuangan yang pedih ini selesai, barulah ayam diletakkan di tempat yang bersih, untuk kemudian disajikan di meja presiden. Sampailah ayam pada posisi yang mulia, meskipun harus ditebus dengan kematian. Tetapi, kalau ayam tidak berjuang keras, kemudian saat dia hidup melompat ke meja presiden, bukan kemuliaan yang ia dapat tetapi justeru pengusiran dari meja presiden. Kenapa? Karena ayam itu dianggap kurang ajar dan merusak citra presiden,” Kiai Gombloh kembai tertawa.
“Tetapi dengan tebusan kematian, ayam itu demikian puas karena perjuangannya telah sampai pada kemuliaan. Selain sampai di meja presiden, ayam itu bisa dinikmati oleh siapa saja, kemudian mengajarkan pada kita untuk bersyukur karena tubuh kita mendapat tambahan protein hewani dari perjuangan kematian ayam yang sampai di meja presiden atau di meja makan kita”
Bila ayam saja siap berkorban sampai pada titik kematian untuk menjadikan dirinya sebagai mahluk yang mulia, lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah menyiapkan diri untuk berjuang keras mempertahankan akhlaq demi sebuah kemuliaan di mata Sang Pencipta, sebagaimana ayam yang berjuang menuju meja presiden?
BTN Krg. Asam
Tanjung Enim, 9 April 2009
Penulis adalah Pelaku Sastra di Palembang

Gus dur dan celana dalam

Kalau Anda bersedia berpikir mandiri dan menghilangkan skeptisme psikologis atas segala hal yang selama ini menyodorkan kecurigaan dan kebingungan, sehingga Anda siap memperoleh pemahaman yang jernih dan ketentraman hati maka perkenankan saya mengajak Anda memahami Indonesia melalui Gus Dur.

Sekali lagi hapus skeptisme di benak Anda. Kapan-kapan Gus Dur bisa Anda lihat sebagai RI-1, ulama besar, dan pejuang demokrasi, tokoh ini dan itu, atau apapun saja. Tapi yang paling diperlukan kali ini pertama-tama adalah kesediaan melihat Gus Dur sebagai manusia.

Kedua ia adalah orang yang kita gaji untuk mengurusi kesejahteraan dan keadilan kita semua rakyat Indonesia. Kita rakyat Indonesia adalah pihak yang berkedudukan tertinggi, Gus Dur adalah salah satu bawahan kita. Ia harus taat kepada kita, karena kitalah yang mengesahkan setiap butir undang-undang yang kemudian kita bersama sama mengikatkan diri padanya.

Kenapa memahami Indonesia harus melalui Gus Dur? Pertama karena justru Gus Dur belum tentu punya kerendahan hati untuk memahami kita.

Kedua karena kita harus men-thowafi Indonesia sedemikian unit dan spesifiknya, Indonesia sedemikian rupa. Kita harus memahami Indonesia dari segala sisi dan sudut, yang di dalam metodologi thowaf sisi dan sudut itu berjumlah tak terhingga. Indonesia sedemikian unit dan spesifiknya, Indonesia adalah satu paradigma sejarah, suatu jenis antropo-sosiologi yang hampir tak ada duanya. Ya kecanggihannya, ya kedunguannya, ya keruwetannya, ya….

Sehingga tidak mungkin kita menolak thowaf, kalau tidak ingin selalu salah sangka dan kecele dalam memahaminya. Juga kalau kita mendekati Indonesia hanya melalui dan…. kepentingan subyektif pihak dan kelompok kita, percayalah kita akan menyongsong malapetaka demi melapetaka lagi yang lebih menyengsarakan.

Kita harus memulai kembali menata pemahaman kita atas negeri, bangsa dan manusia Indonesia. Melalui segala sisi dan sudut dan apapun seluas-luasnya. Memahaminya kembali melalui kandungan tanah dan bebatuannya. Melalui jenis darah dan gen penghuninya. Melalui habitat sosio-kulturalnya. Melalui kecenderungan kelakuan politiknya. Kita memahami Indonesia melalui orang-orang kecil yang menjarah toko-toko, melalui kakilima-kakilima sepanjang jalan, melalui monyet-monyet di hutannya, melalui Gus Dur, melalui kaum intelektual, ulama-ulama, melalui siapa dan apa saja.

Bahkan kali ini kita belajar dari celana dalam dulu di masa mudanya Gus Dur kuliah di Kairo, Mesir. Suatu sore bersama sahabatnya, Gus Mus alias KH Mustafa Bisri, beliau menerima tamu seorang ‘yunior’ pelajar yang baru datang dari tanah air dan akan kuliah di sana. Sekarang si yunior ini sudah menjadi kiai besar di sebuah pesantren di Jawa Timur selatan-barat.

Mestinya adegan-adegan ini saya kisahkan langsung di panggung dengan formula teater, karena bentuk tulisan seperti ini tidak bisa mengangkut nada, irama dan musikalitas secara maksimal. Oleh karena itu saya padatkan saja, tanpa teaterikalisasi audio-visual.

Singkat kata Gus Dur dan Gus Mus maenyambut si yunior dengan penuh keakraban. Mempesilakannya duduk, menawarkannya minum. Si yunior memilih kopi, Gus Mus memasak air, Gus Dur mengambil cangkir, lepek dan lap pembersih. Di sinilah pusat tema kita.

Lap pembersih itu bukan kain lap sebagaimana lazimnya. Yang dipegang Gus Dur adalah cawat alias celana dalam. Cangkir dan lepek dengan celana dalam itu, Gus Dur berkeliling secara prima. Wajahnya tanpa ekspresi, tanya ini itu kepada si yunior, sambil tangannya mantap menggosok-gosokkan celana dalam itu ke cangkir dan lepek.

Tentu saja si yunior jadi BI. Salah tingkah, namanya tersinggung, tapi tidak punya keberanian untuk tersinggung, karena tuan rumahnya inh jangan-jangan adalah seorang wali yang menyimpang karomah dan barokah di balik celana dalamnya si yunior berpikir mungkin ini sebuah fatwa: Gus Dur bisa jadi sedang memberi peringatan kepadanya agar selama kalian di Kairo ia benar-benar menumbuhkan kemampuan iman dan akhlak untuk menjaga muatan celana dalamnya semaksimal mungkin. Pokoknya berhati-hatilah dengan segala hal yang berkaitan dengan celana dalam.

Tapi itu semua adalah realitas nilai. Realitas moral dan teologi. Yang paling yunior rasakan sekarang adalah kopi yang bercampur dengan segala unsur yang dimungkinkan terkandung oleh celana dalam. Dan lagi secara psikologis maka mungkin minum kopi sambil merasakan gigir celana dalam dengan segala citra dan imajinya diantara dua ….

Kayaknya belum pernah ada mitos, buku hasil riset atau bahan apapun yang pernah memberikan ada orang membersihkan cangkir kopi dengan celana dalam. Juga tidak pernah ada riwayat tentang orang paling gila dari belahan bumi manapun yang kelakuannya mblunat seperti ini. Apalagi karena si yunior memiliki ilmu kasyful hijab sehingga ia tahu bahwa tuan rumahnya inilah yang kelak sempat menjadi orang nomor satu di negaranya, pasti epidemi yang muncul kelak adalah penyakit pusing kepala di seantero nusantara.

Tapi sudahlah. Mau bagaimana. Si yunior akhirnya menganggap bahwa seniornya ini memang sedang mempelonconya, si yunior mengerahkan segala daya upaya psikologis untuk mengikhlaskan dirinya meminum kopi celana dalam ini. Bahkan iapun ikhlas tatkala Gus Dur masuk kamar mandi mengambil sikat gigi, kemudian mengaduk kopinya dengan sikat gigi.

Saya harus ambil ‘jalan tol’ apa pendapat Anda mengenai celana dalam dan sikat gigi presiden kita ini?

Kalau pakai husnudh-dhon atau positive-thinking. Kita bisa melontarkan argumentasi. Siapa bilang itu celana dalam? Itu adalah kain. Dan Gus Dur belum pernah memakainya. Kain itu bersih, baru dari toko dan sudah sempat dicuci satu kali. Secara kedokteran kain itu well-recommended untuk dijadikan lap cangkir. Juga sikat giginya belum pernah menyentuh gusinya Gus Dur. Ia bersih seratus persen. Pak dokter tak akan marah dan menyalahkan Gus Dur.

Tapi tidak etis, dong? “Bahwa ini adalah celana dalam”, demikian kira-kira kata Gus Dur kepada si yunior. “Itu adalah persepsi yang berasal dari konsepmu sendiri, sedangkan bagiku ini adalah kain yang bersih”.

Ah, betapa luasnya masalah ini. Betapa panjang kalau kita mendiskusikannya. Pandanglah dari sudut filosofi satuan-satuan ilmu, manajemen, empirisme sosial, atau apapun saja. Kita men-thowaf-i celana dalam, tapi saya akan mengambil dari satu sudut kecil saja. PKB atau celana dalam atau kain? PDIP, Golkar, PPP, PAN dan lain-lain itu celana dalam atau kain.

Mungkin Golkar itu jas, PDIP celana panjang, PPP satu PAN kaos, PKB celana dalam, atau terserah bagaimana anda mengindetifikasinya. Tapi yang jelas celana dalam, kaos, jas, dan lain-lain itu sama-sama kain, PKB, PDIP, Golkar dan lain-lain itu sama-sama Indonesia. Dan tidak pernah ada cerita tentang celana dalam bertengkar lawan kaos, jas lawan dasi, atau celana panjang lawan kemeja. Mereka semua bekerja sama untuk menutupi aurat pemakainya, bekerjasama untuk membangun kehormatan bagi pemakainya.

Sesudah menjadi presiden, Gus Dur sendiri tak boleh berpikir dan bertindak dengan orientasi celana dalam. Ia harus berpikir kain dan mengambil keputusan berangkat dari kain dan kain untuk pemakai kain itu. Gampangnya Gus Dur bukan orang PKB, bukan NU, melainkan Indonesia.

Oleh Emha Ainum Nadjib

Senin, 30 April 2012

puisi : Tumbal untukmu

Tumbal untukmu
(maulana husain rumi)

"alfitnatu assaddu minal qotl"
nyanyian yang indah untukmu

ya...
kau kembali berulah kawan
sekarang saatnya mencari sumpal
untuk mulutmu

ya...
kami kau injak lagi
lebih sakit sekarang
karena mencoreng muka,
muka kami
kau penuhi sepatu mahalmu
yang penuh
kotoran anjig segar kemarin

ya...
rokok ini masih menyala
kopi ini pun masih segar berapi
mungkin lebih indah
jika kutuang dalam kerongkonganmu
secuil keindahan neraka

ya...
aku mau ke Gunung kawi
kan kutumbalkan jasadku
untuk membuatmu merasakan
sepiring kenikmatan luka
yang akan membuatmu meronta
dan merasakan kepedihan kami
ha..ha..ha....


husain el-rumi
di_ malam yang menjerit

Jumat, 03 Februari 2012

puisi : serat kegelapan


SERAT KEGELAPAN
(maulana husain rumi)

Sayup-sayup aungan kelam di pelupuk jiwa
Menyambar tajam keheningan
Sepoi-sepoi embun syahdu samudera
Yang bertebaran
Yang tersisih
Ditepis alunan waktu yang mengalir
                                                            Mentari masih terpaku dalam kedilemaan
Seakan  enggan untuk meruncing     
Bersama kilau barisan tombak bernama
Si surya pun mengoranye senja
Dalam keterpanaan roman merah kelam
Semua indera tertidur dibius asap
Asap mengepul menyeruak retak
Melodi kehidupan pun tercerai berai
Menyuarakan irama kematian
Di sudut rembulan bundar meredup
Memucuk terkatup
Harum indahnya miris tergadai
Di plesir rajutan angkasa
                                                            Melangkahlah terus
                                                            Meski gelora kehidupan masygul
                                                            Memaknai tafsir yang tak terbaca
                                                            Terus resapi
                                                            Terus fahami
                                                            Cahaya hitam di Serat kegelapan

9-1-12

puisi : mimpi itu


Mimpi itu
(maulana husain rumi)
Aku masih saja terlelap
Dalam mimpi yang telah dimainkan
Dalam rekaman yang baru saja mengalir
Semua indah, bak
Sabana emas permata bersemai
Sang zamzam turun dari pengaduannya
Kesejukan yang mengalir di hilirmu
Terus berlambai-lambai
                             Sempat aku siuman
                             Dalam permainan rasio sendu
                             Namun dengkurku menjerit
                             Aku ingin hidup
                             Hidup dalam bayang-bayang ini
                             Aku bisa leluasa memegang
                             Memandang
                             Mendekap erat tubuhmu
                             Aku bahagia
                                                                   Kecupan mesra itu masih terasa
                                                                   Rengkuh hangatmumasih menggema
                                                                   Aku terlilit untaian kenikmatan
                                                                   Ya, aku terlarut
                                                                   Kurenungi pesona indah lamunanku
                                                                   Aku tak mau bangun
                                                                   Aku candu halusinasi ini
                                                                   Menjauhlah dari pejamku, kawan
Sang bundaran semesta memang kejam
Dia seret aku
Dengan belenggu duri yang menyakitkan
Kupegang erat pintu pembatas
Namun aku lepas
Aku terbangun
Dengan senyum meranum
Aku senang bemimpi
Mimpiku akan hidup
                                                                                      21-1-12

Mau punya buku tamu seperti ini?
Klik di sini (Info Blog)

bintang kerlip

widget gaara

butterfly