banner

menu

Sabtu, 12 Mei 2012

Ayam mati di Meja Presiden


Oleh Imron Supriyadi
Salah satu tugas pokok Nabi Muhammad SAW di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak (makarimal akhlaq). Itulah secuil kalimat awal yang sempat saya kutip dari Kiai Gombloh, salah satu guru ngaji saya di Tanjung Enim. Tetapi, untuk melakukan penyempurnaan akhlak, Muhammad tidak kemudian merubah sifat dasar manusia, yang cenderung menyerupai hewan.
“Lho, kok menyerupai hewan,?” tanya saya heran.
“Manusia punya rasa haus dan lapar, hewan juga punya.
Manusia punya nafsu, hewan juga punya. Manusia punya rasa kantuk, hewan juga punya. Bukankah itu sifat hewan yang sama dengan manusia?” Kiai Gombloh bertanya sambil meyakinkan saya ketika itu.
Tetapi menurutnya, yang disempurnakan Muhammad bukan sifat dasar manusia ini. Bukan juga fisik. Sebab kalau fisik, pada dasarnya manusia ini mahuk yang kotor.
“Tetapi, manusia kan diciptakan dengan sempurna? Kenapa kiai katakan manusia itu kotor?” sergah saya penasaran.
“Hidung yang mancung ini, isinya cuma tai hidung.
Kalau pilek yang keluar ingus. Kemudian mata kita yang bersinar ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan tai mata, rembes atau belek. Mulut kita yang indah ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan iler, yang baunya sangat tidak enak.
Dan dubur (anus) kita yang setiap hari kita bersihkan hanya mengeluarkan tinja. Dan kalau kamu mau sadar, kita ini juga lahir dari tempat pembuangan kotoran,” jelas Kiai.
Matanya mengamati saya untuk meyakinkan kalau saya benar-benar paham dengan ucapannya. Saya mangut-mangut.
Bermula dari inilah, menurut Kiai Gombloh, Muhammad diutus ke bumi untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak adalah pakaian.
Akhlak adalah ruh dalam diri manusia, yang menjadi penentu, apakah manusia akan menjadi mahluk mulia atau sebaliknya terjerumus dalam kubangan dosa dan kehinaan.
“Akhlak itu pakaian,?” tanya saya lirih. Kiai mendengar keraguan batin saya.
“Kalau kamu tidak percaya, sekarang kamu keluar dari ruangan ini, dan berdiri di tempat orang ramai dengan tidak memakai baju selembar pun. Maka saat itulah kamu akan sadar, kalau saat itu kamu akan tahu perbedaan manusia dengan hewan. Dan kamu akan tahu kalau akhlak adalah sama dengan pakaianmu,” tegasnya.
Tetapi, ketika manusia berusaha menyempurnakan akhlaknya, selalu dihadapkan pada dua pilihan, antara halal dan haram, dan berbagai rayuan dunia yang menggiurkan syahwat kebinatangan. Tidak jarang, sebagian manusia yang kemudian terjerembab dan jatuh ke dalamnya. Jadilah manusia kembali pada kehinaan. (asfalasaa filin)
“Supaya manusia kembali pada kemuliaan, bagaimana?”
“Ya, itu tadi, manusia harus dipoles dengan akhlak Al-Quran, supaya manusia ini bisa kembali kepada fitrahnya manusia yang pada awalnya suci dan bersih!”
“Untuk berjuang mempertahankan kemuliaan ini, kamu harus banyak belajar dengan ayam yang bisa naik ke meja presiden,” kata Kiai Gombloh sambil tertawa.
Saya sedikit bingung dengan ucapannya. Sebab dari awal berbincang soal akhlak, tiba-tiba Kiai Gombloh menyuruh saya belajar dengan ayam.
“Ayam kiai?” tanya saya makin penasaran.
Ia hanya mengangguk.
“Perjuangan ayam untuk bisa naik ke meja presiden, sangat panjang perjalannya. Tetapi itu dilakukan untuk memosisikan dirinya agar menjadi mahluk yang mulia di mata presiden,” kata kiai tanpa membaca pikiran saya yang makin bingung.
“Sama seperti kita. Untuk mempertahankan akhlak dan kemuliaan di hadapan Allah, kita juga memerlukan perjuangan yang tidak mudah. Perlu kesabaran. Siap dilempar-lemparkan ke sana kemari. Bersedia menerima kenikmatan dan musibah.
Sanggup menahan diri dari godaan duniawi. Siap menaggung kepedihan, kesengsaraan hidup dan lain sebagainya,” katanya.
“Sekali saja kita terjerumus dalam gelimang tipuan duniawi, dan tidak sabar terhadap kebijakan dari langit, kita akan kembali menjadi mahluk yang kotor tadi,” tegasnya.
“Ayam juga begitu. Untuk menjadi mahluk yang mulia di mata presiden, ayam itu sanggup ditangkap oleh tukang ayam. Kemudian kakinya diikat. Setelah tiba waktunya, ayam itu juga harus siap disembelih. Pedih. Sakit dan berdarah-darah”
“Tidak cukup sampai disitu. Setelah disembelih, dimasukkan dalam air panas. Kemudian dicabuti bulu-bulunya. Ditelanjangi habis, persis ketika ayam itu baru menetas dari telurnya. Ia juga seperti manusia ketika lahir, tidak ada sesuatu apapun yang menempel di badannya, kecuali kesucian!”
Saya menunggu lanjutan kalimatnya. Belum jelas kemana hubungan antara perjuangan kemuliaan ayam dan kemuliaan manusia.
“????”
Saya terdiam sesaat. Saya masih terus menunggu kesimpulan akhir dari cerita ayam dari Kiai Gobloh.
“Setelah semua dilucuti, ayam juga harus siap dipotong-potong.
Perutnya dibelah. Semua organ tubuhnya dikeluarkan. Disayat dan dibersihkan. Sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, ayam juga harus bersedia dilumuri dengan bumbu.
Ada garam, lada, ketumbar, bawang merah, bawang putih dan sedikit cabe. Kamu bisa bayangkan, kalau kita luka kecil saja, bila dilumuri garam akan sangat pedih, lalu bagaimana dengan ayam yang dilumat habis dalam wajan dengan bumbu dapur?”
Saya merenung sejenak, sambil membayangkan bagaimana pedihnya luka di tubuh ayam yang harus dilumuri garam dan cabe, sambil mengumpakan kalau ayam itu saya.
“Tidak sampai di situ perjuangan ayam. Setelah dilumuri bumbu dapur, ayam harus menjalani proses akhir sebelum sampai pada kemuliaannya. Ayam harus digoreng dengan minyak panas, atau juga direbus dengan air mendidih, sampai dagingnya empuk.”
“Setelah perjuangan yang pedih ini selesai, barulah ayam diletakkan di tempat yang bersih, untuk kemudian disajikan di meja presiden. Sampailah ayam pada posisi yang mulia, meskipun harus ditebus dengan kematian. Tetapi, kalau ayam tidak berjuang keras, kemudian saat dia hidup melompat ke meja presiden, bukan kemuliaan yang ia dapat tetapi justeru pengusiran dari meja presiden. Kenapa? Karena ayam itu dianggap kurang ajar dan merusak citra presiden,” Kiai Gombloh kembai tertawa.
“Tetapi dengan tebusan kematian, ayam itu demikian puas karena perjuangannya telah sampai pada kemuliaan. Selain sampai di meja presiden, ayam itu bisa dinikmati oleh siapa saja, kemudian mengajarkan pada kita untuk bersyukur karena tubuh kita mendapat tambahan protein hewani dari perjuangan kematian ayam yang sampai di meja presiden atau di meja makan kita”
Bila ayam saja siap berkorban sampai pada titik kematian untuk menjadikan dirinya sebagai mahluk yang mulia, lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah menyiapkan diri untuk berjuang keras mempertahankan akhlaq demi sebuah kemuliaan di mata Sang Pencipta, sebagaimana ayam yang berjuang menuju meja presiden?
BTN Krg. Asam
Tanjung Enim, 9 April 2009
Penulis adalah Pelaku Sastra di Palembang

Ayam mati di Meja Presiden


Oleh Imron Supriyadi
Salah satu tugas pokok Nabi Muhammad SAW di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak (makarimal akhlaq). Itulah secuil kalimat awal yang sempat saya kutip dari Kiai Gombloh, salah satu guru ngaji saya di Tanjung Enim. Tetapi, untuk melakukan penyempurnaan akhlak, Muhammad tidak kemudian merubah sifat dasar manusia, yang cenderung menyerupai hewan.
“Lho, kok menyerupai hewan,?” tanya saya heran.
“Manusia punya rasa haus dan lapar, hewan juga punya.
Manusia punya nafsu, hewan juga punya. Manusia punya rasa kantuk, hewan juga punya. Bukankah itu sifat hewan yang sama dengan manusia?” Kiai Gombloh bertanya sambil meyakinkan saya ketika itu.
Tetapi menurutnya, yang disempurnakan Muhammad bukan sifat dasar manusia ini. Bukan juga fisik. Sebab kalau fisik, pada dasarnya manusia ini mahuk yang kotor.
“Tetapi, manusia kan diciptakan dengan sempurna? Kenapa kiai katakan manusia itu kotor?” sergah saya penasaran.
“Hidung yang mancung ini, isinya cuma tai hidung.
Kalau pilek yang keluar ingus. Kemudian mata kita yang bersinar ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan tai mata, rembes atau belek. Mulut kita yang indah ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan iler, yang baunya sangat tidak enak.
Dan dubur (anus) kita yang setiap hari kita bersihkan hanya mengeluarkan tinja. Dan kalau kamu mau sadar, kita ini juga lahir dari tempat pembuangan kotoran,” jelas Kiai.
Matanya mengamati saya untuk meyakinkan kalau saya benar-benar paham dengan ucapannya. Saya mangut-mangut.
Bermula dari inilah, menurut Kiai Gombloh, Muhammad diutus ke bumi untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak adalah pakaian.
Akhlak adalah ruh dalam diri manusia, yang menjadi penentu, apakah manusia akan menjadi mahluk mulia atau sebaliknya terjerumus dalam kubangan dosa dan kehinaan.
“Akhlak itu pakaian,?” tanya saya lirih. Kiai mendengar keraguan batin saya.
“Kalau kamu tidak percaya, sekarang kamu keluar dari ruangan ini, dan berdiri di tempat orang ramai dengan tidak memakai baju selembar pun. Maka saat itulah kamu akan sadar, kalau saat itu kamu akan tahu perbedaan manusia dengan hewan. Dan kamu akan tahu kalau akhlak adalah sama dengan pakaianmu,” tegasnya.
Tetapi, ketika manusia berusaha menyempurnakan akhlaknya, selalu dihadapkan pada dua pilihan, antara halal dan haram, dan berbagai rayuan dunia yang menggiurkan syahwat kebinatangan. Tidak jarang, sebagian manusia yang kemudian terjerembab dan jatuh ke dalamnya. Jadilah manusia kembali pada kehinaan. (asfalasaa filin)
“Supaya manusia kembali pada kemuliaan, bagaimana?”
“Ya, itu tadi, manusia harus dipoles dengan akhlak Al-Quran, supaya manusia ini bisa kembali kepada fitrahnya manusia yang pada awalnya suci dan bersih!”
“Untuk berjuang mempertahankan kemuliaan ini, kamu harus banyak belajar dengan ayam yang bisa naik ke meja presiden,” kata Kiai Gombloh sambil tertawa.
Saya sedikit bingung dengan ucapannya. Sebab dari awal berbincang soal akhlak, tiba-tiba Kiai Gombloh menyuruh saya belajar dengan ayam.
“Ayam kiai?” tanya saya makin penasaran.
Ia hanya mengangguk.
“Perjuangan ayam untuk bisa naik ke meja presiden, sangat panjang perjalannya. Tetapi itu dilakukan untuk memosisikan dirinya agar menjadi mahluk yang mulia di mata presiden,” kata kiai tanpa membaca pikiran saya yang makin bingung.
“Sama seperti kita. Untuk mempertahankan akhlak dan kemuliaan di hadapan Allah, kita juga memerlukan perjuangan yang tidak mudah. Perlu kesabaran. Siap dilempar-lemparkan ke sana kemari. Bersedia menerima kenikmatan dan musibah.
Sanggup menahan diri dari godaan duniawi. Siap menaggung kepedihan, kesengsaraan hidup dan lain sebagainya,” katanya.
“Sekali saja kita terjerumus dalam gelimang tipuan duniawi, dan tidak sabar terhadap kebijakan dari langit, kita akan kembali menjadi mahluk yang kotor tadi,” tegasnya.
“Ayam juga begitu. Untuk menjadi mahluk yang mulia di mata presiden, ayam itu sanggup ditangkap oleh tukang ayam. Kemudian kakinya diikat. Setelah tiba waktunya, ayam itu juga harus siap disembelih. Pedih. Sakit dan berdarah-darah”
“Tidak cukup sampai disitu. Setelah disembelih, dimasukkan dalam air panas. Kemudian dicabuti bulu-bulunya. Ditelanjangi habis, persis ketika ayam itu baru menetas dari telurnya. Ia juga seperti manusia ketika lahir, tidak ada sesuatu apapun yang menempel di badannya, kecuali kesucian!”
Saya menunggu lanjutan kalimatnya. Belum jelas kemana hubungan antara perjuangan kemuliaan ayam dan kemuliaan manusia.
“????”
Saya terdiam sesaat. Saya masih terus menunggu kesimpulan akhir dari cerita ayam dari Kiai Gobloh.
“Setelah semua dilucuti, ayam juga harus siap dipotong-potong.
Perutnya dibelah. Semua organ tubuhnya dikeluarkan. Disayat dan dibersihkan. Sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, ayam juga harus bersedia dilumuri dengan bumbu.
Ada garam, lada, ketumbar, bawang merah, bawang putih dan sedikit cabe. Kamu bisa bayangkan, kalau kita luka kecil saja, bila dilumuri garam akan sangat pedih, lalu bagaimana dengan ayam yang dilumat habis dalam wajan dengan bumbu dapur?”
Saya merenung sejenak, sambil membayangkan bagaimana pedihnya luka di tubuh ayam yang harus dilumuri garam dan cabe, sambil mengumpakan kalau ayam itu saya.
“Tidak sampai di situ perjuangan ayam. Setelah dilumuri bumbu dapur, ayam harus menjalani proses akhir sebelum sampai pada kemuliaannya. Ayam harus digoreng dengan minyak panas, atau juga direbus dengan air mendidih, sampai dagingnya empuk.”
“Setelah perjuangan yang pedih ini selesai, barulah ayam diletakkan di tempat yang bersih, untuk kemudian disajikan di meja presiden. Sampailah ayam pada posisi yang mulia, meskipun harus ditebus dengan kematian. Tetapi, kalau ayam tidak berjuang keras, kemudian saat dia hidup melompat ke meja presiden, bukan kemuliaan yang ia dapat tetapi justeru pengusiran dari meja presiden. Kenapa? Karena ayam itu dianggap kurang ajar dan merusak citra presiden,” Kiai Gombloh kembai tertawa.
“Tetapi dengan tebusan kematian, ayam itu demikian puas karena perjuangannya telah sampai pada kemuliaan. Selain sampai di meja presiden, ayam itu bisa dinikmati oleh siapa saja, kemudian mengajarkan pada kita untuk bersyukur karena tubuh kita mendapat tambahan protein hewani dari perjuangan kematian ayam yang sampai di meja presiden atau di meja makan kita”
Bila ayam saja siap berkorban sampai pada titik kematian untuk menjadikan dirinya sebagai mahluk yang mulia, lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah menyiapkan diri untuk berjuang keras mempertahankan akhlaq demi sebuah kemuliaan di mata Sang Pencipta, sebagaimana ayam yang berjuang menuju meja presiden?
BTN Krg. Asam
Tanjung Enim, 9 April 2009
Penulis adalah Pelaku Sastra di Palembang

Gus dur dan celana dalam

Kalau Anda bersedia berpikir mandiri dan menghilangkan skeptisme psikologis atas segala hal yang selama ini menyodorkan kecurigaan dan kebingungan, sehingga Anda siap memperoleh pemahaman yang jernih dan ketentraman hati maka perkenankan saya mengajak Anda memahami Indonesia melalui Gus Dur.

Sekali lagi hapus skeptisme di benak Anda. Kapan-kapan Gus Dur bisa Anda lihat sebagai RI-1, ulama besar, dan pejuang demokrasi, tokoh ini dan itu, atau apapun saja. Tapi yang paling diperlukan kali ini pertama-tama adalah kesediaan melihat Gus Dur sebagai manusia.

Kedua ia adalah orang yang kita gaji untuk mengurusi kesejahteraan dan keadilan kita semua rakyat Indonesia. Kita rakyat Indonesia adalah pihak yang berkedudukan tertinggi, Gus Dur adalah salah satu bawahan kita. Ia harus taat kepada kita, karena kitalah yang mengesahkan setiap butir undang-undang yang kemudian kita bersama sama mengikatkan diri padanya.

Kenapa memahami Indonesia harus melalui Gus Dur? Pertama karena justru Gus Dur belum tentu punya kerendahan hati untuk memahami kita.

Kedua karena kita harus men-thowafi Indonesia sedemikian unit dan spesifiknya, Indonesia sedemikian rupa. Kita harus memahami Indonesia dari segala sisi dan sudut, yang di dalam metodologi thowaf sisi dan sudut itu berjumlah tak terhingga. Indonesia sedemikian unit dan spesifiknya, Indonesia adalah satu paradigma sejarah, suatu jenis antropo-sosiologi yang hampir tak ada duanya. Ya kecanggihannya, ya kedunguannya, ya keruwetannya, ya….

Sehingga tidak mungkin kita menolak thowaf, kalau tidak ingin selalu salah sangka dan kecele dalam memahaminya. Juga kalau kita mendekati Indonesia hanya melalui dan…. kepentingan subyektif pihak dan kelompok kita, percayalah kita akan menyongsong malapetaka demi melapetaka lagi yang lebih menyengsarakan.

Kita harus memulai kembali menata pemahaman kita atas negeri, bangsa dan manusia Indonesia. Melalui segala sisi dan sudut dan apapun seluas-luasnya. Memahaminya kembali melalui kandungan tanah dan bebatuannya. Melalui jenis darah dan gen penghuninya. Melalui habitat sosio-kulturalnya. Melalui kecenderungan kelakuan politiknya. Kita memahami Indonesia melalui orang-orang kecil yang menjarah toko-toko, melalui kakilima-kakilima sepanjang jalan, melalui monyet-monyet di hutannya, melalui Gus Dur, melalui kaum intelektual, ulama-ulama, melalui siapa dan apa saja.

Bahkan kali ini kita belajar dari celana dalam dulu di masa mudanya Gus Dur kuliah di Kairo, Mesir. Suatu sore bersama sahabatnya, Gus Mus alias KH Mustafa Bisri, beliau menerima tamu seorang ‘yunior’ pelajar yang baru datang dari tanah air dan akan kuliah di sana. Sekarang si yunior ini sudah menjadi kiai besar di sebuah pesantren di Jawa Timur selatan-barat.

Mestinya adegan-adegan ini saya kisahkan langsung di panggung dengan formula teater, karena bentuk tulisan seperti ini tidak bisa mengangkut nada, irama dan musikalitas secara maksimal. Oleh karena itu saya padatkan saja, tanpa teaterikalisasi audio-visual.

Singkat kata Gus Dur dan Gus Mus maenyambut si yunior dengan penuh keakraban. Mempesilakannya duduk, menawarkannya minum. Si yunior memilih kopi, Gus Mus memasak air, Gus Dur mengambil cangkir, lepek dan lap pembersih. Di sinilah pusat tema kita.

Lap pembersih itu bukan kain lap sebagaimana lazimnya. Yang dipegang Gus Dur adalah cawat alias celana dalam. Cangkir dan lepek dengan celana dalam itu, Gus Dur berkeliling secara prima. Wajahnya tanpa ekspresi, tanya ini itu kepada si yunior, sambil tangannya mantap menggosok-gosokkan celana dalam itu ke cangkir dan lepek.

Tentu saja si yunior jadi BI. Salah tingkah, namanya tersinggung, tapi tidak punya keberanian untuk tersinggung, karena tuan rumahnya inh jangan-jangan adalah seorang wali yang menyimpang karomah dan barokah di balik celana dalamnya si yunior berpikir mungkin ini sebuah fatwa: Gus Dur bisa jadi sedang memberi peringatan kepadanya agar selama kalian di Kairo ia benar-benar menumbuhkan kemampuan iman dan akhlak untuk menjaga muatan celana dalamnya semaksimal mungkin. Pokoknya berhati-hatilah dengan segala hal yang berkaitan dengan celana dalam.

Tapi itu semua adalah realitas nilai. Realitas moral dan teologi. Yang paling yunior rasakan sekarang adalah kopi yang bercampur dengan segala unsur yang dimungkinkan terkandung oleh celana dalam. Dan lagi secara psikologis maka mungkin minum kopi sambil merasakan gigir celana dalam dengan segala citra dan imajinya diantara dua ….

Kayaknya belum pernah ada mitos, buku hasil riset atau bahan apapun yang pernah memberikan ada orang membersihkan cangkir kopi dengan celana dalam. Juga tidak pernah ada riwayat tentang orang paling gila dari belahan bumi manapun yang kelakuannya mblunat seperti ini. Apalagi karena si yunior memiliki ilmu kasyful hijab sehingga ia tahu bahwa tuan rumahnya inilah yang kelak sempat menjadi orang nomor satu di negaranya, pasti epidemi yang muncul kelak adalah penyakit pusing kepala di seantero nusantara.

Tapi sudahlah. Mau bagaimana. Si yunior akhirnya menganggap bahwa seniornya ini memang sedang mempelonconya, si yunior mengerahkan segala daya upaya psikologis untuk mengikhlaskan dirinya meminum kopi celana dalam ini. Bahkan iapun ikhlas tatkala Gus Dur masuk kamar mandi mengambil sikat gigi, kemudian mengaduk kopinya dengan sikat gigi.

Saya harus ambil ‘jalan tol’ apa pendapat Anda mengenai celana dalam dan sikat gigi presiden kita ini?

Kalau pakai husnudh-dhon atau positive-thinking. Kita bisa melontarkan argumentasi. Siapa bilang itu celana dalam? Itu adalah kain. Dan Gus Dur belum pernah memakainya. Kain itu bersih, baru dari toko dan sudah sempat dicuci satu kali. Secara kedokteran kain itu well-recommended untuk dijadikan lap cangkir. Juga sikat giginya belum pernah menyentuh gusinya Gus Dur. Ia bersih seratus persen. Pak dokter tak akan marah dan menyalahkan Gus Dur.

Tapi tidak etis, dong? “Bahwa ini adalah celana dalam”, demikian kira-kira kata Gus Dur kepada si yunior. “Itu adalah persepsi yang berasal dari konsepmu sendiri, sedangkan bagiku ini adalah kain yang bersih”.

Ah, betapa luasnya masalah ini. Betapa panjang kalau kita mendiskusikannya. Pandanglah dari sudut filosofi satuan-satuan ilmu, manajemen, empirisme sosial, atau apapun saja. Kita men-thowaf-i celana dalam, tapi saya akan mengambil dari satu sudut kecil saja. PKB atau celana dalam atau kain? PDIP, Golkar, PPP, PAN dan lain-lain itu celana dalam atau kain.

Mungkin Golkar itu jas, PDIP celana panjang, PPP satu PAN kaos, PKB celana dalam, atau terserah bagaimana anda mengindetifikasinya. Tapi yang jelas celana dalam, kaos, jas, dan lain-lain itu sama-sama kain, PKB, PDIP, Golkar dan lain-lain itu sama-sama Indonesia. Dan tidak pernah ada cerita tentang celana dalam bertengkar lawan kaos, jas lawan dasi, atau celana panjang lawan kemeja. Mereka semua bekerja sama untuk menutupi aurat pemakainya, bekerjasama untuk membangun kehormatan bagi pemakainya.

Sesudah menjadi presiden, Gus Dur sendiri tak boleh berpikir dan bertindak dengan orientasi celana dalam. Ia harus berpikir kain dan mengambil keputusan berangkat dari kain dan kain untuk pemakai kain itu. Gampangnya Gus Dur bukan orang PKB, bukan NU, melainkan Indonesia.

Oleh Emha Ainum Nadjib

Mau punya buku tamu seperti ini?
Klik di sini (Info Blog)

bintang kerlip

widget gaara

butterfly