banner

menu

Kamis, 19 Januari 2012

cerpen : fitrah

oleh Maulana Husain Rumi pada 12 Januari 2012 pukul 16:53
 
    Barisan bintang sedang berjajar membentang menghiasi malam Minggu tanpa Rembulan ini, sedari tadi kutunggu temanku Rouf. Tak kunjung juga kelihatan batang hidungnya.
Sudah hampir kutunggu setengah jam, tapi tetap saja masih belum kelihatan si Rouf. Anak sesepuh desa suka tani itu, “Huft” lama-lama aku jadi patung disini nunggu Rouf yang katanya tadi ngajak ke Pasar Malam bareng, kenapa sih ini anak?, batinku di dalam hati. Namun tiba-tiba kegrundelan hatiku itu pecah. Tatkala puluhan Santri Putri beranjak pulang dari pengajian Agama Ustadz Syaifudin di halaman sekolah MI Tanbihul Ghofilin. Disana Nampak sesosok Wanita Suci berkerudung hijau muda dengan wajah yang bersinar cerah dihiasi tatapan mata yang sejuk, lesung pipit yang merona dan senyumnya yang benar-benar mempesona. Dengan pikiran melayang mata ini terus memandangnya, hingga “dor” suara itu mengejutkanku dari belakang, ternyata Rouf yang lama sekali datangnya itu menyebabkanku kesal ditengah kegembiraan, “ayo der, kita berangkat sekarang”, ujar Rouf tanpa perasaan berdosa. Dalam hatiku geram juga, gaya mengajaknya seperti itu. “ pergi kemana, ke London, jam segini kowe baru kesini, darimana saja sih !”, dengan nada emosi aku mengatakannya, tapi kemudian dia menjelaskan alasannya yang bisa diterima oleh akal, bahwasanya keterlambatannya gara-gara mengantarkan Neneknya ke Rumah Sakit kota sejak habis Maghrib tadi.
“Ya sudahlah kalau begitu, ayo berangkat”. Ajakku dengan nada-nada sedikit kesal.
Perjalanan kami, diiringi dengan canda tawa, tak jarang lirik kanan lirik kiri. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sosok Wanita yang beriri menunggu pesanan bakso.
“ Tidak salah lagi, Wanita itu yang tadi memakai Jilbab hijau muda, cantiknya ya Allah…, anggun sekali.”
“ itu Fitrah der, anaknya pak lurah, dia Mondok di Ponpes Az Zahroh, Probolinggo, Tapi sekarang lagi di rumah. hati-hati saingannya banyak lho !”. Ucap Rouf di tengah lamunku.
“Siapa juga yang pengen nembak dia, aku kan Cuma lihat dia saja. Eh. . . kamu malah nyeramahin aku”. Kita terus larut dalam canda tawa, sampai langkah kita akhirnya tepat berada di depan gerbang Pasar Malam.
Rouf, Nampak begitu menikmati suasana Pasar Malam. Tapi aku justru malas untuk menikmati semua permainan, ataupun hanya sekedar lihat-lihat banyak pedagang yang berjualan. Tidak tahu mengapa ?, bayangku melayang-layang kepada Fitrah, senyumannya yang begitu anggun, membuat akalku terus larut dalam lamunan. Apakah aku pantas bersanding dengannya, seorang calon Ustadzah, sedangkan aku hanya orang biasa yang tidak begitu mengenal Agama.
Malam semaki larut, aku dan Rouf kembali ke rumah masing-masing.
Kurasakan jantungku berdebar-debar saat merebah di atas kasur, kuputuskan dengan keberanian diri untuk menulis sepucuk surat untuk Fitrah.
Kubiarkan penaku menari-nari merangkai kata di atas kertas putih yang membisu.
Pukul 02.00 WIB pagi.
Surat telah terangkai, kubiarkan jasad ini beristirahat dari begitu dahsyatnya kehebatan cinta. Pelan tapi pasti, tiba-tiba semua Nampak gelap dan tenang...

Matahari Nampak begitu panas, membakar semangatku untuk mengantarkan sepucuk surat jeritan jiwa untuk sang perumpamaan bidadari surga.
Aku terheran-heran, mengapa banyak orang memakai pakaian hitam-hitam di sepanjang jalan ini.
Aku semakin kaget, ketika pasukan hitam-hitam itu dari rumah Fitrah. dan ku bertanya kepada salah satu pemuda yang lewat.
“ ada apa ini mas, kok rame sekali?”
Pemuda itu menjawab “ oh. . .itu dek anaknya pak lurah yang bernama Fitrah meninggal dunia sehabis Shubuh tadi.”
Seakan-akan jiwaku tersentak petir yang Maha Dahsyat, tubuhku lemas, kepalaku pening mendengar semua itu.
Setiba di depan pintu ada seorang ibu setengah baya menghampiriku, dia menanyakan bahwa apakah aku membawa surat.
“iya bu, surat untuk anak ibu sebenarnya”. Ibu itu menangis. Dia menceritakan kepadaku bahwa tatkala Fitrah bangun tidur sebelum adzan shubuh, Fitrah menemuinya dan bercerita bahwa ia mimpi indah sekali, rumah terlihat ramai, kemudian datang seorang pemuda tampan dan sopan membawakannya surat, dan setelah dibaca, Fitrah mengatakan kalau surat yang dibuat oleh pemuda itu sangat indah, sampai-sampai Fitrah ingin menemui pemuda tersebut di dunia nyata. akan tetapi sang Izrail telah datang dengan keperkasaannya untuk mengambil jiawa-jiwa manusia yang sudah saatnya meninggalkan dunia yang hina ini, Fitrah menikmati nafas terakhirnya setelah sholat Shubuh, kemudian sebelum ia benar-benar pergi untuk selamanya, dia mengatakan “ ibu, aku ingin berjumpa dengan pemuda itu setelah tidur panjangku ini”
Isi kepalaku serasa ingin muncrat keluar untuk mencari ruang udara, otak dan jantungku bergetar begitu kuat dan cepat, nafasku terengah-engah.
Aku berteriak “ aaaaaargh”.

“Der,, derry … bangun-bangun sudah jam 7 nih. . ., nanti kamu telat berangkat sekolah lagi, setiap tidur pasti kamu ngigau. Ayo bangun. . . cepat!”. Suara mama yang khas membangunkanku.

Husein El- Rumi

1 komentar:

  1. TINING DOG TINING DOG - TITANAN Art, Dining and Craft
    TINING DOG DOG · TINING titanium white acrylic paint DOG. 1/2. FOR SALE. TINING DOG. A unique TINING titanium white octane blueprint DOG created by the TINING titanium or ceramic flat iron DOG. The base base stone is crafted in bronze nipple piercing jewelry titanium with a thick titanium septum jewelry

    BalasHapus


Mau punya buku tamu seperti ini?
Klik di sini (Info Blog)

bintang kerlip

widget gaara

butterfly